Pintu hatiku
Aku pernah mengumpamakan diriku sbg sbuah istana yg dikelilingi parit. Hanya ada satu jalan untuk memasukinya. Yaitu melewati sbuah jembatan yg dapat dinaik/turunkan. Adalah kekuasaanku untuk menutup/membukanya.
Dulu aku memilih untuk slalu membukanya, sehingga siapa saja bisa leluasa masuk dan keluar istanaku. Beberapa hanya sekedar masuk lalu keluar lg tanpa melakukan apa2. Beberapa mencoret2 dinding, membuang sampah bahkan mengambil barang2 dr istanaku lalu pergi. Tp banyak jg yg kemudian merapikan hal2 yg tidak beres, bahkan menghias bbrp ruangan.
Semakin hari smakin banyak orang yg datang. Krn mereka merasa nyaman untuk melakukan apapun dsni. Krn aku mengijinkannya. Aku mrasa senang dekat mereka.
Sampai suatu hari datang seorang pria. Ada yg lain dr pria ini. Dia membuatku tdk nyaman dgn merusak bbrp perabotku, Lalu disaat yg lain aku terkejut ktika ia mencoret2 dinding istanaku, dan yg paling membuatku geram skaligus sedih adalah dia menghancurkan bbrp pilar istanaku.
Aku sangat marah dan sedih, merasa kalau aku sdh hancur.
Tp kemudian aku amati, ternyata pria itu membuat perabot baru yg lebih bagus dan kuat dr sisa2 prabot yg sdh dihancurkannya.
Lalu dia ternyata bukan sedang mengotori dindingku, tp ia sdng mlukis lukisan abstrak yg indah di dinding2 istanaku..
Dan yg mengesankan, ternyata ia merobohkan pilar2 di istanaku untuk menggantinya dgn pilar yg lbh kokoh.
Menyadari hal itu, akupun jatuh cinta padanya, yg trnyata lebih dulu mencintaiku.
Ia akan tinggal di dalam puriku. Aku senang sekali.
Tapi kemudian dia meminta satu hal yg tak pernah kulakukan sblmnya.
Ia memintaku untuk sesekali menutup pintu puri dan menetapkan bbrp aturan bg orang yg masuk dlm puriku.
Permintaan itu aku tolak, krn aku senang dgn kehadiran orang2 di puriku. Mereka membuatku merasa berarti. Dan aku takut kalau ada peraturan, nanti mreka tdk mau lg datang.
Pria itu berkata: "apa yg kau lakukan itu baik. Kau menerima mereka apa adanya, menghargai apa yg mereka lakukan padamu, dan bahkan slalu memaafkan mreka yg menyakitimu. Tp lihatlah keadaanmu.., kau sendiri rapuh, kau tak punya cukup waktu untuk memperhatikan dirimu, dan kau jg membuat mreka tidak menghargaimu, dgn tdk menerapkan aturan, mereka bebas melakukan apapun padamu."
Aku terhenyak. Aku selami keadaanku, dia memang benar. Aku pikir aku telah melakukan yg trbaik. Mungkin iya bagi beberapa orang. Tp bkn berarti aku harus kehilangan waktu dgn diriku sendiri dan orang2 yg aku cintai.
Akhirnya aku mulai menutup pintu. Hanya beberapa saat. Dan saat itu benar2 aku nikmati. Aku jd bs mlihat ksluruhan ruang dalam istanaku. Mana yg msh bagus, mana yg kurang.Dan aku jg punya waktu untuk orang2 yg tinggal di dalamnya. Orang2 yg kucintai.
Tp pintuku tetap aku buka. Hanya saja sekarang aku lebih bs menghargai orang2 yg datang dan pergi, krn aku telah menghargai diriku sendiri trlebih dahulu, sblm aku mengatakan bahwa aku siap untuk mereka.
No comments:
Post a Comment