free spirit

pic from bandung.olx.co.id

Saat chris john diminta untuk menggantung sarung tinjunya, apalagi tepat setelah ia memenangkan kembali sabuk kejuaraannya, menurutmu apa yang ia rasakan? Tanyakan padanya.

Saat Dominic Toretto* si pembalab liar yang jenius namun lembut hati itu akhirnya dijebloskan dalam penjara dan tak lagi bisa beraksi dibelakang setir... Akankah itu merubah jiwanya?
Ia melihat sendiri, Saat seekor singa liar kemudian dimasukkan dalam kandang, ia akan memberontak, mengaum sekeras mungkin, mencoba menggigiti jeruji besi yang mengekang, mencoba merobohkannya dengan terjangan, dan tapi kemudian semuasia-sia. Perlahan ia mulai menerima daging mentah yang disodorkan, tak ada lagi kesenangan menyobek dan mengoyak daging segar yang masih mengalirkan darah.Perlahan namun pasti sorot matanya yang liar berubah menjadi redup. Perlahannamun pasti singa itu sudah mati.
Itu yang paling ditakutkannya, Itulah mengapa ia selalu berusaha memacu mobilnya lebih cepat dan mencari trik paling lihai untuk menghindari polisi. Tak pernah ia takut mobilnya akan terbalik dan mencederainya, dan bukan juga peluru panas polisi yang ia takutkan akan merebut nyawanya. Ia hanya takut masuk penjara.  Ia tahu, apa yang ia lakukan selama ini hanyalah membebaskan jiwanya dengan balap, dengan hidup dalam kejaran polisi. Diabenar-benar tahu cara menikmati hidup. Yang dia tidak tahu adalah saat hidup tidak lagi boleh dinikmati.

Bagaimana dengan seorang Srintil** yang seorang titisan ronggeng dukuh paruk, yang sudah sejak bau kencur sudah menari dengan jiwanya, harus berpisah dari sampur dangan gamelannya. Kira-kira jadi apa ia kemudian?
„Gerhana, sebentar lagi gerhana....“ Srintil-lah yang berteriak sambil berlari di kampung yang saat itu sebagian besar warganyasedang menikmati purnama.. Beberapa orang tampak berlari ke dapurmencari panci dan wajan, beberapa ibu mempersiapkan alunya. Mereka bersiap untuk mengusir gerhana, karena sang Butho yang memakan bulan takut pada bunyi-bunyian keras dan bertalu-talu. Entah siapa yg memulai, suara wajan dan panci mulai terdengar disahut alu. Desa itu jadi ramai. Beberapa orang senang, menikmati kegaduhan, beberapa lagitampak cemas memandang bulan.
Lelah sudah mereka menabuh, gerhana tak datang. Sepasang dan akhirnya berpasang-pasang mata mencari srintil. Berbohongkah dia? Atau begitu dasyatkah suara alu, panci dan wajan itu sehingga membuat sang Butho tak jadi makan bulan?
Srintil memang sudah jadi agak tidak waras sejak ia tak lagi bisa mendengar bunyi gamelan dan dipaksa berhenti menari oleh sekawanan rampok yang membabi buta menghabisi kelompok ronggeng dan mengambil perangkat gamelannya. Gamelan yang selalu mengiringi dia menari, gamelan yang punya unsur magis itu selalu bisa membuat Srintil terus menari dengan kenes tanpa kelelahan.
Tapi, malam ini tabuhan memang terdengar lagi, walau bukan dari gamelan, dan lihatlah... Srintil menari.. dan semua mata kini kembali memandang sang titisan ronggeng itu melepas rindunya pada tari. Pada setiap gerakan yang membebaskan hasratnya, marahnya, cintanya, rindunya. Mata yang membulat, tangan yang melentik, senyum yang menggoda.. srintil menari lagi...walau tanpa gamelan.
Warga terus menabuh..mereka juga rindu pada Srintil.. ternyata Srintil tidak jadi gila.. ia hanya sedang mencari saat yang tepat untuk kembali melepas jiwanya.. ia hanya sedang menunggu „momen“ ...................

Jiwa itu milikmu, bahagia itu pilihanmu, ciptakan sendiri... tidak ada orang yang bisa menyentuhnya.. hanya kamu yang berhak membatasi. Dan yang empunya hidup yang berhak mengambil „jiwa“mu.....“

*tokoh utama Film„Fast und Furious“
** tokoh utama Novel „Ronggeng Dukuh Paruk“

No comments:

Post a Comment