My dream, you are..

von Raya Maharaya, Mittwoch, 13. Oktober 2010 um 11:25

Sedari pagi aku sudah cemas. Aku melirik jam di meja belajarku sudah pukul 10 malam lebih. Aku menarik selimutku menutupi seluruh tubuhku, sebenarnya malam ini gak dingin. Hanya perasaan dan pikiranku membuat aku menggigil. Seharusnya tadi aku ikuti saja tawaran teman2 untuk nonton dan nge-mall, tp aku terlalu penasaran untuk menanti saat tidur. Yang justru membuatku gak bisa tidur.
Hari ini tanggal 8 september, besok tgl 9 adalah ulang tahunku. Ke 21 tepatnya.
Sulit dipercaya, tapi aku selalu mendapat mimpi yg sama pada malam menjelang ulang tahunku. Dan aku ingin tahu apa malam ini ia akan datang juga.
Kalo ga salah ingat pertama kali ia datang pada mimpiku adalah ktika aku berumur 15 mau 16 tahun. Ya, aku ingat..
Ia slalu datang selepas tengah malam. Pertama, aku akan mendengar gemerincing gelang kaki kuda-kuda yg menarik keretanya dari langit, lalu tiba-tiba aku sudah tidak dikamarku lagi. Aku terbangun di pinggir pantai. Pertama kali aku sangat ketakutan, melihat dia turun dari kereta kudanya yg berwarna hijau lumut, ia sangat cantik, ia juga pakai kebaya berwarna hijau lumut. Rambutnya hitam panjang, bibirnya merah, tapi sepertinya bukan karena lipstik. Sebagai laki-laki normal aku menegang melihat tubuh moleknya. 
"Agastya. Jangan takut, aku cuma mau kamu temani"
Aku menurut saja,matanya sudah menghipnotisku. Lalu tiba-tiba kusadari kepalaku sudah dipangkuannya. Ia menggumamkan suatu tembang yg terdengar tidak asing sambil membelai rambutku. Aku hanya diam saking takutnya. Paginya aku terbangun dikamarku dgn kasur yg basah. Ibu dan bapak malah mengetawai aku.
Mimpi itu terasa nyata sekali. Bahkan stiap aku bangun seperti masih mencium aroma pantai dan jg aroma bunga2 pada bajuku. Ia memang slalu wangi.
Tahun kemarin aku sudah tak takut lagi padanya, aku malah menunggu -nunggu kedatangannya. Waktu itu aku berniat untuk tidak akan diam, aku akan berbicara padanya. Dan benar saja, saat aku sudah merebahkan kepalaku dipangkuannya, saat ia mulai membelai rambutku dan mulai menggumamkan tembang yang sama, aku beranikan diri menatap wajahnya. Aneh, ia tak bertambah tua sepertiku. Ia masih sama sperti mimpi pertamaku. Bahkan kelihatan lebih cantik. Lalu tanpa sadar jariku sudah menyentuh bibirnya. Ia berhenti bergumam, lalu tersenyum padaku.
"kamu mau apa? Knapa kamu slalu datang tiap ulang tahunku?" tanyaku. Aku tak takut lagi padanya, aku justru ingin mengenalnya lebih lagi.
"aku cuma menunggu waktu yang tepat" ia masih membelai rambutku."
"waktu apa? Apa sekarang bukan waktu yg tepat?" aku semakin penasaran.
"kamu yang menentukan, aku cuma menunggu"
"aku harus apa?"
"kamu akan tahu kalo waktunya tiba...sepertinya kamu sudah hampir siap dan tahu apa mauku"
Tapi lalu aku sudah terbangun dikamar lagi. Huhf...
Sekarang menjelang ultahku ke 21. Sepertinya aku sudah tahu apa yg dia mau, hanya saja aku tak tahu kenapa. Aku akan tanyakan itu padanya nanti.
Lalu aku mendengar gemerincing gelang kaki kuda2nya. Aku bersiap. Aku tak kaget lagi saat aku mendengar deru ombak. Kali ini aku sudah berdiri menyambut tangannya lalu mencium tangan itu. Sebelum apapun, aku langsung bertanya: "kamu mau aku. Tapi kenapa aku?" tapi tak ada jawaban, entah bagaimana 
Aku malah sudah berbaring dipangkuannya lagi. Tapi kali ini aku bangun menegakkan badan, duduk disebelahnya: "knapa aku?" ia diam saja. Aku ambil tangannya aku letakkan dipipiku. Ia menatapku. Aku bertanya lagi, dengan nada lembut "aku tahu ini saatnya, tapi aku mau tahu kenapa."
"kamu memang sudah dipilihkan untukku. Dan aku juga memilihmu". Jawabnya.
Sebenarnya aku masih belum puas bertanya. Tapi aku takut waktu akan cepat berlalu. Jadi aku segera saja menariknya. Membiarkan dia mendapatkan apa yang dia mau, dan juga aku mau.
Pagi ini aku 21 tahun. Aku bangun dengan penuh kebahagiaan dan kebanggaan akan "mimpiku" semalam.

"Aga!" suara ibu memanggilku " sudah siang nak,... kamu ga kuliah?". masih dengan senyum lebar aku keluar kamar dan mendapati ibu di meja makan bersama bapak dan... " eh kenalin ini laksmi, asisten ibu yang baru" kata ibu sambil menunjuk gadis yang duduk di depannya,sedikit kaget tapi kemudian hatiku berteriak girang saat gadis itu membalikkan badannya dan tersenyum padaku.
Hai bidadari mimpiku....Akhirnya kita bertemu disini. Dan aku bisa merindumu setiap hari.

No comments:

Post a Comment