von Raya Maharaya, Montag, 30. August 2010 um 07:47
Masih pagi yg sama. Matahari memang bersinar lebih terik, tapi selebihnya sama. Aku menatap sekelilingku. Salju masih menumpuk menyelimuti hampir apa saja. Suasana yg sama stiap harinya...putih, dingin dan kadang beku. Ach... aku mulai bosan.
Aku memicingkan mata, dr kejauhan aku melihat sesuatu berjalan mendekat, ia tampak berbeda, tak pernah kulihat yg sperti ini sebelumnya. Aku menahan nafas, ia semakin terlihat jelas. Ia punya kulit coklat gelap yg sangat kontras dgn bulu putih tebalku. Sejenak aku perpikir apa ia tak kedinginan ditengah salju bertelanjang dada seperti itu?
Lambaian tangannya mengejutkanku. Ia sudah cukup dekat dgnku. Ia tersenyum. Aku mulai bs mengatur tempo nafasku.
"siapa kamu?" tanyaku ragu
"aku dr skitar sini saja"
"tapi aku tak pernah melihatmu"
"kau juga baru kulihat disini" katanya sambil mengambil satu langkah maju. Sementara aku justru mundur 1 langkah.
"kamu...apa tidak kedinginan tak pakai baju di tengah salju begini?"
"dingin?...salju apa?" ia melihat kanan kiri tampak kebingungan dgn pertanyaanku, "panas matahari ini pasti sdh membuatmu linglung, kau pasti kegerahan dgn bulu tebalmu itu" sambungnya.
"aku..." skrng aku yg tak mengerti maksud pembicaraannya. " look around... Kita ditengah salju dan kau bilang aku kegerahan?"
Dia tertawa tertahan, " hei.. Kamu nggak papa? Kita kan ditengah padang pasir." aku tambah bingung, diraut wajahnya tersirat keyakinan 100%. Apa laki2 memang begitu? Selalu yakin dgn yang dikatakannya.
Aku tak menjawab lagi, tp aku terduduk dan meraih segenggam salju ditanganku. Masih dingin, ini memang salju. Aku menyorongkan tanganku ke hadapannya yg kini sudah berjongkok didepanku. Saljunya stengah mencair krn kehangatan tanganku. Kali ini ia tersenyum, Mengambil tanganku lalu menakupkan kedua tangannya pada tanganku. Membuat saljunya semakin mencair dan menetes melalui celah2 tangan kami. Ia berkata pelan tapi pasti
"cantik.. Pasir itu terlalu kecil untuk bisa kau genggam seluruhnya"
Aku sangat bingung, tp sejenak tersentak sewaktu mendengarnya memanggilku cantik. Aku melihat wajahnya, tp kemudian segera membuang muka krna ternyata ia jg sedang memandangiku.
"tapi ini memang salju" aku menarik tanganku.
Kami terus menerus berdebat, hingga kehabisan cara untuk membuktikan bahwa apa yg kami yakinilah yang benar. Lalu ia diam sejenak, kembali memandangku dengan tersenyum
"sudahlah, itu gak penting lagi" katanya kemudian.
"lho kok?"
"aku berjalan sampai kesini untuk mencari seseorang yg bs menemaniku, menepis kebosananku pada padang pasir, memberikan sesuatu yg berbeda....dan tampaknya aku sudah menemukannya". Aku kembali menahan napas, tangannya yg hangat sudah berada dipipiku,memberi belaian singkat dan tipis, menghantarkan kehangatan yg tak pernah aku rasakan, bahkan pada darahku. Rasanya aku juga ingin menahan detak jantungku yg sudah semakin tak beraturan ketika ia menggeser duduknya mendekat padaku. He's right beside me. Aku merasakan kulitnya menyentuh bulu2 putihku yang tebal. Mencium aroma hangat dari tubuhnya. Pelan ia membelaiku. " kamu lembut sekali"...aku kehilangan semua kata. Aku cuma menatapnya dengan pandangan entah apa. Ia punya kejenuhan yg sama seperti kejenuhanku pada salju dan dingin. Ia menawanku dgn kulit coklat, mata bulat, senyum dan hangatnya.
Ia terus membelaiku, membuat hati dan pikiranku kacau balau,
"hentikan berdebat, biar waktu yg menjawab.. Tp saat ini..di waktu ini.. Aku mau kita sepakat..." ia membisikkan kata2 itu sambil meraih daguku, mendongakkan kepalaku sehingga aku bisa lebih jelas menatap matanya yang bening... Detak jantungku sudah tak dapat dikendalikan lagi. Bahkan darahku seperti sudah mendidih, membuat seluruh tubuhku menegang. Ia semakin mendekatkan wajahnya..... Aku menghebus nafas pendek lalu menariknya lagi. Bibirnya sudah menyentuhku... Aku memejamkan mata... Lalu ajaibnya aku melihat padang pasir. Just like he said... Aku menyerah! Aku sepakat! Saat ini..di waktu ini...
No comments:
Post a Comment